Jejak Dunia Nyata
Mulai hari ini, aku nyoba untuk gak berlama-lama di depan warnet. Aku mau nyoba untuk jadi kepala rumah tangga yang baik, setidaknya hadir di tengah-tengah mereka dalam keberasamaan.
Cukup sekali saja aku menyadari begitu berharganya keluarga, waktu anak dan istriku di jakarta. Dan hari ini, setelah sore kemarin aku menerobos hujan lebat, dan kepolosan aku di jalan jakarta, keluargaku sudah kembali kumpul, di sini, bersama aku.
Cinta memang tak terbeli dengan harta, namun tetap saja indah dan kesempurnaan cinta tidak lepas dari harta. Yups, cinta itu sudah aku dapati, apalagi kehadiran Getsa, bidadari kecilku, sudah beranjak dewasa, meski baru belajar menapaki dunia.
Kehadiaran maha cinta, menuntut aku selalu bersikap dewasa dengan kapasitas aku sebagai kepala keluarga. Untuk itu, aku mencoba merambah ke dunia yang sebelumnya tidak aku jamah. Yups, selain aku membawa istri dan anaku dari jakarta, aku juga bawa oleh-oleh usaha kecil-kecilan.
Dengan modal handphne dan sejumlah rupiah, aku mulai belajar berbisnis pulsa. Tidak seberapa memang pendapatannya, tapi tidak ada yang namanya besar jika tidak diawali dari yang kecil. Puji Tuhan, beberapa menit aku resmi buka, sudah 200 ribu pulsa aku jual…
Oh iya, ada pelajaran berharga yang aku dapetin, waktu menunggu bus di depan pintu tol cikapmek dan menengok lokasi tragedi situ gintung. Btw, besok-besok aku sharring tentang itu. Sekarang, aku ingin bercumbu, dengan keluargaku, lagi dan kembali….
Jebolnya tanggul di Situ Gintung menjadi pemicu bencana alam dan bencana kemanusiaan. Tak mengherankan banyak yang menangis dan sedih atas tragedi Situ Gintung di Kelurahan Cireundeu, Kecamatan Ciputat, yang menyebabkan puluhan warga meninggal dunia.
Hari ini adalah pertama dalam hidupku berpisah dengan istri dan si kecil tercinta. Mereka pulang ke Jakarta untuk istirahat sejenak dan melipur rasa kangen kakek-neneknya di daerah Pondok Aren. Keduanya berangkat pukul 07.00 WIB dengan bus kramat djati jurusan Subang-Lampung Rambutan.
Sebentar lagi, pemilihan legislatif dimulai. Kampanye dari panggung satu ke panggung laen tampak hingar bingar, bahkan kerap ngundang artis, minimal artis di kampung itu. Biar lebih semarak, si caleg ngadain dorprize. Pertanyaanya mudah saja, tanggal 9 April mau pilih siapa?
