Beranda > ngecuprus > Refleksi Tahun Baru: Mengarifi Kematian

Refleksi Tahun Baru: Mengarifi Kematian

Memaknai kematian dalam konsep sederhana adalah terpisahnya ruh dan dzat, jiwa dan badan. Kematian yang dilukiskan sebagai akhir dari satu kehidupan dan awal dari kehidupan yang lain adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa diganggu gugat, dan ini berlaku bagi siapun dan apapun yang bernama makhluk. Persoalannya adalah proses kematian itu memiliki waktu, cara berbeda dan situasi psikis yang berbeda.

Teori kematian adalah bagian tak terpisahkan dari peristiwa yang melekat pada struktur kehidupan; bagian dari sunnatullah, hukum penciptaan yang berlaku bagi setiap manusia. Kedatangannya selalu tepat waktu, tidak pernah mundur atau maju walaupun satu saat, dan tidak ada seorangpun yang mampu menghambat kedatangannya.

Mati atau kematian merupakan peristiwa yang lazim dan teramat alamiah. Kendatipun kematian mengandung misteri yang hakikatnya belum terpecahkan oleh akal dan pengetahuan manusia. Akibatnya tidak sedikit manusia yang berpandangan salah terhadap realitas ini, kemudian memunculkan sikap dan dogma yang salah pula di masyarakat.

Kendati kematian, dalam sejarah kehidupan manusia, merupakan sebuah peristiwa keseharian yang melekat dalam struktur hidupnya dan dapat ditemukan kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apa saja, tetapi ia tetap menjadi sesuatu yang asing bagi dirinya, tetap saja banyak orang –yang entah apa alasanya- mencemaskan kedatangannya.

Di bawah alam sadar manusia, belum adanya kepastian kedatangan kematian itu menimbulkan rasa kekhawatiran dan kecemasan. Hanya saja pemahaman terhadap rasa cemas dan takut akan datangnya ajal hanya difahami secara materi, bukan diikuti dengan hal-hal yang sifatnya abstrak, yang menunjang pada persiapan sebelum tiba wakitunya.

Agaknya kenyataan ironis tersebut, menunjukkan bahwa kesadaran sebagian orang telah tertutup oleh pesona dunia; hiruk-pikuk kehidupan yang menekan; dan oleh kekalutan mental yang kita hasilkan sendiri. Akibatnya, hati menjadi buta disebabkan oleh kegandrungannya kepada hiasan dunia yang tak henti-henti menimbunnya. Akhirnya, mereka tenggelam dalam lautan dunia  dan sibuk memenuhi nafsu keserakahan dan semangat hedonistiknya.

Ketika manusia tenggelam dalam lautan kehidupan dunia dan terlena dalam kesibukan luar biasa untuk memenuhi hawa nafsu hedonistiknya (yang menuntut pengerahan seluruh tenaga dan waktu yang dimilikinya), ia akan diserang penyakit lupa terhadap tempat kembalinya yang haqiqi; yang selalu menungguya dan menjadi terminal akhir penentuan nasibnya.

Tahun baru merupakan peristiwa peralihan dari satu masa ke masa lain, dari usia muda ke usia selanjutnya, yang substansinya peristiwa ini setahun lebih cepat menemui dan menjumpai kematian.

Ironisnya peristiwa pergantian tahun baru yang semestinya dijadikan arena tafakur dan evaluasi diri, seperti berapa juta harta yang didapat lewat jalan korupsi, amanah yang tidak dipenuhi, janji yang tidak ditepati, bawahan (rakyat) yang tersakiti, dan kedzoliman-kedzoliman yang telah dilakukan pada orang lain yang tanpa disadari.

Sebalikny, yang terjadi adalah prosesi penyambutan tahun baru justru diisi dengan cara-cara yang tidak ada relevansinya dengan semakin dekatnya jarak dengan kematian. Pesta kapitlaisme digelar di sejumlah sudut kota, pemubadziran materi, dan hiruk pikuk gemerlap dunia glamour, bahkan peristiwa itu diisi dengan kebebasan dan pemenuhan hawa nafsu yang tak terbatas.

Lalu, masih adakah pesta pora pada malam pergantian tahun baru 2009 besok? Lihat saja nanti….

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: