Beranda > ngecuprus > Jangan Ada Dusta di Antara Kita

Jangan Ada Dusta di Antara Kita

Pagi ini aku tiba-tiba mencak-mencak, entah ke siapa pencakan aku dialamatkan. bingung, aku cuma bisa geram.

Jam 08.00 tadi aku buka-buka lembaran SINDO. Seperti biasa sekedar ngontrol dan nyari ide. Tapi apa lacur, kaget gak kepala tanggung. Pos yang biasa yang aku tempatin ternyata tidak ada “jagoanku”.

Dia menghilang, tanpa bekas, apalagi pamit. Yang muncul malah air, yang tumpah meleber di beberapa kabupaten/kota. DUps…

“Jagoanku” itu adalah hasil audiensi ICW-KRSB dengan Kejagung di Gedung Bundar, Jakarta. Salah satu isinya, ICW minta Kejari jangan takut dengan intimidasi dan intervensi dalam ngusut kasus upah pungut. Selain itu juga, pesan Kejagung, Orang-orang sekantor gedung bundar itu sepakat dengan upaya proses hukum yang kasusnya masih ditangani Kejari.

Tapi, lagi-lagi jagoanku itu tak ada. Dikalahkan ama tumpahan air yang jadi tren seminggu ini. Saya gak habis pikir, apa motivasinya. Dan bagi saya susah diterima, apapun alasannya.

Sebab, kasus Upah pungut itu lagi ngetrend, dan jadi magnet buat masyarakat. Bahkan soal UP, sekarang Kejagung lagi getol bidik UP di DKI, dan saya yakin UP di subang akan jadi pioner pengusutan dalam kasus yang sama di Indonesia, seperti proyek Damkar, yg awalnya di jabar.

Nah Ini cukp lumayan meningkatkan oplah. Terbukti, setiap kali berita si UP ii nongol, hampir sebelum jam 9, paling banter jam 10 SINDO di subang kota abis alias ludes. Berarti, menghilangkan dia, berarti menolak rezeki.

Kedua, pekerja jalanan yang suka dikonplen dengan alasan bobol. jutsru tidak terbalas dengan hilangnya jagoanku. karena 100% si jagoan itu tidak ada satu orangpun yang tahu, karena mereka sendiri sibuk dengan air yang meluber. Jadi sebenarnya ini menjadi dendam kesumat aku.

Ketiga, sepakat banjir memang harus dinaikan, apapun caranya dan alasannya. tapi kalau dilihat skala provinsi atau nasional, banjir itu kan terjadi secara merata di jabar, khusunya di wilayah pantura. dan ini menjadi bencana kemanusian.

soal bencana kan pasti identik dengan soal penanggulangan dan bantuan. Nah kalo di dalam kan, kesannya itu persoalan biasa, sama halnya dengan pejabat A melantik si Koplok, yang cukup tahu untuk orang-orang daerah itu saja.

permaslaahnnya, kenapa si banjir itu nongolnya di halaman dalam, gak didorong keluar? Sehingga menggusur jagoanneonku UP hilang ditelan zaman.

Btw, gak ngerti ah, maklumlah saya mah orang jalanan, yang cuma harus tahu “nyari” bukan dibaca. Dan besokpun, belum tentu berita seputar kasus UP naek lagi, atau hanyut kebawa banjir… lieurrrrrr

  1. fatur
    16 Januari 2009 pukul 01:53

    Jangan gampang patah arang kang anas…..ditunggu berita-berita hangat tentang subang……

  2. 10 Mei 2013 pukul 23:36

    Hi there, all is going sound here and ofcourse every one
    is sharing data, that’s actually good, keep up writing.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: