Beranda > ngecuprus > Serangan Israel Tewaskan Mendagri Hamas

Serangan Israel Tewaskan Mendagri Hamas

Memasuki hari ke-21, militer Israel tak kunjung mengurangi serangannya ke Jalur Gaza. Bahkan, tokoh penting di kelompok pejuang Hamas, yakni Menteri Dalam Negeri Hamas Said Siam (50), tewas dalam serangan udara Israel, Jumat (16/1). Israel menyerang saat Siam berada di rumah saudaranya di lokasi pengungsian Jabalya.

Selain Siam, tiga warga sipil juga tewas pada saat pesawat Israel menyerang rumah milik saudara Siam di utara Gaza City. Israel membenarkan soal serangan udara itu, sementara kelompok pejuang Hamas bertekad segera membalas dendam atas kematian Siam.

”Pemimpin Said beserta putra dan saudara laki-lakinya tewas sebagai syuhada di Jalur Gaza,” sebut stasiun TV Al-Quds.

Brigade Ezzedine Al-Qassam dalam pernyataan tertulis mengaku akan membalas serangan Israel. Disebutkan, itu bukan kata-kata kosong.

Pemimpin Hamas di wilayah Suriah, Mohammed Nazzal, menegaskan, tewasnya para pemimpin Hamas itu takkan mengubah perlawanan terhadap Israel.

”Ancaman-ancaman Israel tak membuat kami gentar. Para pemimpin kita telah mengabdikan hidupnya untuk perjuangan ini. Karena itu, mereka tidak takut mati,” ujarnya saat dihubungi per telepon.

Berbagai pihak tidak yakin kematian para pemimpin senior di Hamas itu akan berpengaruh pada kemampuan Hamas menyerang Israel. Setidaknya, hal itu diyakini Israel akan menggoyang kekuasaan dan kekuatan Hamas di wilayah Gaza.

Berdasarkan keterangan resmi Hamas, Siam bertugas menangani 13.000 polisi dan aparat keamanan Hamas yang sebagian besar terlibat dalam pertikaian dengan Israel. Siam adalah tokoh Hamas yang membentuk Pasukan Eksekutif atau unit keamanan Hamas untuk menandingi unit pasukan pengawal Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Siam mulai menjabat sebagai Mendagri setelah Hamas memenangi pemilihan di Palestina pada Januari 2006. Siam dikenal sebagai pemimpin cerdas dan kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan keras.

Siam pernah diwawancarai oleh kantor berita Reuters, Maret 2006. Ketika ditanya mengenai kebijakan-kebijakannya, Siam langsung menjawab dengan keras. ”Rezim baru Hamas akan berusaha melancarkan serangan lebih terkoordinasi ke arah Israel,” ujarnya.

Lahir di lokasi pengungsian di Gaza City tahun 1959, Siam berprofesi sebagai guru hingga tahun 2003. Di sela-sela waktu selain mengajar, Siam aktif dalam kegiatan politik. Siam pernah empat kali ditahan saat terjadi pemberontakan di Palestina tahun 1987 hingga 1993.

Ia juga diusir Israel tahun 1992 ke wilayah Lebanon selatan. Ketika kembali ke Palestina, ia ditahan lagi, tetapi kali ini oleh aparat keamanan Palestina. Siam dikenal dekat dengan Sheikh Ahmed Yassin, pendiri sekaligus pemimpin spiritual Hamas, yang juga tewas dalam serangan Israel. Siam juga diketahui dekat dengan pemimpin Hamas di Beirut, Lebanon, Khaled Meshaal.

Gerbang Rafah

Seiring dengan serangan yang menewaskan tokoh senior di Hamas, operasi darat dan udara Israel tetap gencar meski intensitas serangan mulai berkurang dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya. Sekitar 13 roket mendarat di wilayah Israel dari arah Gaza dan pesawat Israel menyerang 40 sasaran di Gaza sepanjang malam. Sampai hari ini sedikitnya 1.138 orang tewas dan 5.100 orang terluka di wilayah Gaza.

Warga Gaza yang terkepung di tengah-tengah pertempuran Hamas dan Israel berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang lebih aman di pinggiran Gaza City. Warga membawa kasur, koper, dan barang-barang lain yang dianggap berharga dengan mobil yang ada. Pemandangan seperti ini terlihat di kawasan permukiman Tel al-Hawa.

”Kami tak akan pernah lupa dengan serangan ini. Kami tidak menyangka masih bisa bertahan hidup,” kata Abu Mahmud (54), warga Tel al-Hawa.

Eksodus warga seperti ini pernah terjadi tahun 1948 saat warga Palestina dipaksa pergi dari wilayah yang kini menjadi Israel. Sebagian besar warga yang bereksodus pada saat itu kemudian memilih tinggal turun-temurun di Gaza sampai sekarang.

Abu Mahmud mengaku, ia dan keluarganya terpaksa tidur hanya menggunakan karpet tipis di tangga darurat apartemen yang kosong. Mereka saling berpelukan ketika mendengar suara ledakan dan senjata otomatis.

PBB menyebutkan, sedikitnya 45.000 pengungsi warga Palestina saat ini berlindung di dalam 48 gedung sekolah di Jalur Gaza yang dikelola PBB.

Dari Rafah dilaporkan, puluhan wartawan dari sejumlah negara berkumpul di depan Pintu Gerbang Rafah, wilayah Mesir, menunggu izin untuk masuk ke wilayah Jalur Gaza. Jika tidak memperoleh izin, mereka berharap bisa masuk ke wilayah antara Mesir dan Gaza. Di pintu Rafah, wilayah Mesir, terdapat kantor imigrasi Mesir yang menjadi pintu masuk dan keluar Jalur Gaza pada saat kondisi normal.

Situasi di Rafah di wilayah Palestina kemarin relatif lebih tenang dari sebelumnya. Tak terlihat pesawat tempur Israel yang melintas di langit Rafah. Selain wartawan, di depan pintu gerbang itu juga antre 70 truk pengangkut bantuan kemanusiaan berupa makanan, pakaian, obat-obatan, selimut, tempat tidur, kasur, dan tikar. Mereka antre untuk masuk ke Jalur Gaza.

Seorang petugas bantuan kemanusiaan dari Turki, Ibrahim, mengatakan, ia dan 11 kawannya sudah menunggu di gerbang sejak pukul 09.00. ”Sampai saat ini belum ada tanda-tanda kami diizinkan masuk. Insya Allah kami diizinkan masuk,” kata Ibrahim penuh harap.

Hal senada dikatakan Anwar, anggota LSM bidang pendidikan dari Lebanon. ”Saya akan menyerahkan bantuan untuk bidang pendidikan, untuk sekolah. Kami masih harus menunggu agar bisa masuk,” kata Anwar yang mengaku pernah berkunjung ke Kota Yogyakarta tahun 2007. ”Apa kabar?” katanya, tertawa lepas.

Tahap akhir

Pemerintah Israel memperkirakan operasi militer di wilayah Jalur Gaza akan memasuki tahap akhir. ”Kami berharap segera masuk ke tahap akhir. Tetapi, itu bergantung pada keputusan kabinet. Upaya diplomatik kedua pihak gencar dilakukan. Pada waktu bersamaan, tekanan militer terhadap Hamas juga masih dilakukan,” kata Mark Regev, juru bicara Perdana Menteri Israel Ehud Olmert.

Terkait dengan serangan Israel ke markas Badan Bantuan Sosial dan Pekerja PBB (UNRWA) atau badan khusus yang menangani pengungsi Palestina di pusat Gaza City, Direktur Urusan Kemanusiaan PBB John Holmes menyatakan, gudang penyimpanan bantuan kemanusiaan PBB diserang Israel dengan menggunakan ”senjata fosfor putih”. Tudingan PBB ini menyusul pernyataan lembaga Human Rights Watch pekan lalu yang curiga Israel memakai fosfor putih dalam operasi militernya di Gaza.

”Gudang penyimpanan utama rusak parah karena diserang senjata fosfor putih. Jika fosfor putih itu mengenai kulit manusia, akan menyebabkan luka bakar. Ketika mengenai gedung, gedung itu akan terbakar,” kata Holmes di New York, AS. Dikutip dari KOMPAS

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: