Beranda > ngecuprus > Tolak, Fatwa Haram Rokok !!!

Tolak, Fatwa Haram Rokok !!!

Dampak fatwa itu akan meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia, karena tidak memiliki mata pencaharian,” ujar Ketua DPRD Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Asrofi

Jika ini difatwakan akan menimbulkan konflik di tengah masyarakat. Tentu akan terjadi razia oleh kelompok masyarakat karena ada fatwa sebagi dalihnya,” kata Direktur ISES Indonesia Hasan Aoni Azis

Kita harus tahu, sangat banyak petani tembakau yang hidup karena rokok. Belum lagi bea cukai dan pajak untuk negara dari. Jadi, belum saatnya MUI mengeluarkan fatwa haram,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah KH Noer Iskandar SQ

Sekadar bahan perbandingan, PT Djarum Kudus mampu menampung tenaga kerja sebanyak 77.000 orang dan menyumbangkan dana lewat cukai setiap hari sebesar Rp27 miliar. Nah jika dihitung dalam jangka waktu setahun terkumpul Rp9,4 triliun, ini baru dari cukainya,” kata Guru Besar Hukum Islam IAIN Wali Songo Semarang, Ahmad Rofik

”Kalaupun ada larangan merokok, sebaiknya seperti yang mulai diterapkan di wilayah DKI Jakarta,yang melarang merokok di tempat umum,” ujar Ketua MUI Kudus Syafik Nashan.

Fatwa MUI tentu tidak menakutkan, tidak haram saja,tetapi cari solusi positif yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam,” ujar Wapres M. Jusuf Kalla

Dan menurut saya, tolak fatwa haram rokok !!!. Bagaimana menurut kamu??

  1. imuf1976
    24 Januari 2009 pukul 14:57

    saya setuju dengan diharamkannya rokok,
    mengapa? sudah jelas rokok itu merugikan kesehatan, bagi pemakainya berarti menyakiti diri sendiri secara perlahan2, akibat dari rokok sudah kita ketahui bersama, sedang kan di Al-Qur’an sendiri jelas2 Allah menyatakan bahwa manusia DILARANG menyakiti/menzholimi diri sendiri, saya yakin tidak ada 1 orang dokter, ahli kesehatan, para ulama sekalipun yang mengakui klo rokok tidak merusak diri, soal pabrik rokok dan tenaga kerja, masih ada jalan lain yaitu rokok hanya untuk di export, dengan demikian perusahaan masih tetap bisa berjalan, yang jelas kembali lagi ke diri kita masing2, mau pilih yang mana…merokok? atau tidah merokok. 100% rokok itu merusak diri sendiri, dan juga orang2 di sekitarnya, Maaf kata2 ini hanya berlaku bagi umat muslim saja yang mengakui ke Esa an Allah dan mengakui Kitab Al-Qur’an

  2. 24 Januari 2009 pukul 15:11

    saya juga nolak fatwa itu

  3. 24 Januari 2009 pukul 18:11

    tolak atwa haram untuk golput saya sangat setuju, tapi yg untuk rokok masih perlu di pikirkan meskipun saya juga perokok🙂

  4. 24 Januari 2009 pukul 23:46

    Halal atau haram pada akhirnya akan dikembalikan pada diri kita masing2. Jika kita merasa bahwa merokok itu merugikan kesehatan diri sendiri maka jelas seperti yang imuf1976 katakan itu haram dengan sendirinya. Tapi tidak akan semua berpendapat demikian, karena sebagian kita perokok belum merasakan dampak apa2. Apalagi kalo dibanding bandingkan kasus per kasus, misalkan seorang kakek “perokok” sehat sampai 70-an tahun, sementara tetangganya seorang pejabat dan bukan perokok meninggal di usia 50 tahun karena stroke. Yg jelas maut ada ditangan Allah.

    Yang saya dengar sejak kecil dari para guru ngaji, bahwa merokok itu hukumnya makruh, bukan haram. Disini kitapun sering menyamakan makruh dengan mubah (boleh), entah karena memang tidak ada dalil yg tegas mengharamkan atau karena banyak para guru itu juga perokok, sehingga tidak berani mengharamkan. Sementara para cendikiawan kini lebih melihat dari sisi madharat rokok sehingga berani mengatakan haram, pastinya semua harus di dasarkan pada bukti2 penelitian dan rekomendasi para ahli kesehatan. Dengar-dengar sudah dari dulu beberapa negara muslim yg memfatwakan haram merokok.

    Saya pribadi setuju dgn pendapat sebagian orang, bahwa sebaiknya MUI mengeluarkan label HARAM pada suatu produk, bukan label HALAL, karena Indonesia mayoritas muslim, jadi memang semua poduk itu harus halal. Memang kewajiban MUI untuk menjaga muslim agar jangan sampai memakan barang haram.

  5. 28 Januari 2009 pukul 18:14

    biar nggak haram sebelum merokok bismillah dulu.. + kopi panas dan goreng pisang.. pasti asik… gitu aja kok repot..

  6. Bram
    23 Februari 2009 pukul 01:04

    Salams ikhwaniy fillah….

    Masalah rokok memang sangat pelik ditambah lagi dengan fatwa haram MUI yang tidak melihat dampak, sebenarnya kalau dianalisa ini berkaitan erat dengan sistem yang ada, dijaman islam setiap yang dikeluarkan maka diikuti dengan konsekuensi2 dan penanggulangannya, seperti halnya anak muda yang datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan ingin berzinah, disini Rasulullah SAW bukan “menggamparnya” tapi memberikan solusi yaitu dengan menikah (jika puasa pun tidak bisa membendung hasrat anak muda itu).
    Sekarang kalaulah rokok itu haram maka memang betul kita lihat aspek2yang merusak paru2, dan tidak hanya itu ini juga berbahaya bagi perokok2 pasif(orang2 disekeliling perokok), tapi dilain pihak kita juga harus melihat berapa orang yang akan kehilangan pekerjaan karena produksi rokok diberhentikan
    Islam turun utk menyelesaikan permasalahan yang ada, menurut analisa ana memberhentikan rokok harus didukung dengan faktor2 lain seperti mengalokasikan pekerja pembuat rokok kepada kerjaan yang lain, dan juga peringatan keras kepada perokok2 yang merokok ditempat tertutup yang mengakibatkan orang lain menjadi korban, hukum halal-haram harus konsisten, kita sibuk mengharamkan rokok yang masih ikhtilafiyah tapi hukum islam yang “qoth’i” malah dibiarkan tidak diterapkan…, sitem demokrasi yang jelas2 haram diimplementasikan malah dipake ini ironis sekali!!
    kalaulah amirulmukminin yang mengatakan rokok itu haram maka semua akan ta’at karena pastilah semua konsekuensinya telah dipertimbangkan dengan teliti,begitu pula kalau disebut makruh maka konsekuensi juga dipertimbangkan…
    Kalaulah kita melihat fakta ternyata ada juga orang yang berhenti merokok malah menaikkan angka kolesterol yang tadinya tidak ada menjadi tinggi dengan kata lain dia jadi memiliki penyakit karena tidak merokok, jadi disini bukan masalah haram-makruh tapi justru dampak dan aspeknya, karena boleh jadi orang suka merokok karena environment dan kebiasaan mulut, tapi apabila environmentnya sibuk dengan jihad apa mungkin masih ingat akan merokok??
    jadi sistem islam akan membuat lingkungan yang islami dan menyebabkan personil2 yang ada didalam sistem itu menjadi islami pula secara kaafah, sehingga mau haram kek… mau makruh kek.. mereka yang tadinya perokok pasti setuju karena islam ada didalam dirinya secara utuh bukan sepotong2 !!

    Wallahualam

  7. 16 Juni 2015 pukul 00:38

    Can you tell us more about this? I’d want to find out more details.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: