Beranda > ngecuprus > Hujan, Sophie Marten dan Ketabahan Istri…

Hujan, Sophie Marten dan Ketabahan Istri…

dscn9613Hari ini hujan kembali mengguyur Subang, dengan ritme dan kualitas lumayan cukup besar. Hujan mulai turun sejak selepas Dzuhur tadi. Seperti biasa, ketika hujan menyergap Subang, rasa bingungpun menyergap aku. Karena hingga pukul 16.20 WIB, belum ada satu bahanpun yang harus dilayangkan ke Jakarta.

Hujan, motor rusak, tak ada uang bukan alasan yang pantas untuk memahamai Jakarta. Karena mereka menuntut profesionalisme (profesionalisme dalam bekerja, bukan lainnya). Pagi tadi aku sempet keluar rumah, berharap ada mangsa yang bisa dijadikan bahan. Mungkin karena cuaca mendung, orang memilih berdiam dan berkumpul bersama keluarga di rumah. Aku pulang tanpa hasil.

Sementara saat ini, saat hujan mengguyur Subang, hanya tampak beberapa anak dibawah umur dan bertelanjang dada, lari ke sana kemari menikmati turunnya hujan. Mereka tampak begitu bahagia, tanpa beban.

Ah sudahlah, soal kewajiban memang bukan untuk diprotes dan digunjingkan, tapi harus dilakukan. Dan, ah sudahlah, gak perlu diperpanjang, toh aku pun sudah jenuh membahas masalah ini.

Pagi ini, jam 09.30 WIB istriku tiba-tiba memperlihatkan sesuatu. Oh Tuhan, ternyata istriku membawa berkas keanggotaan sebagai members sophie marten. Dia tampak sumringah, di balik wajahnya membuncahkan harapan besr. “Semoga ini bisa membantu pendapatan bulanan ayah,” katanya.

Getir, mendengar ucapnya. Sebuah harapan sudah dia tancapkan. Meskipun keyakinanku, harapan tinggal harapan saja, karena memasarkan produk sophie marten, tak semudah memasarkan minyak tanah.

Aku terharu dengan kepedulian yang dipaksakan seorang istri. Atau mungkin dia sudah mengetahui betul dan memahami dengan pendapatan aku. Karena dua hari kemarin, aku kabarkan bahwa perubahan statusku tidak merubah pendapatan ku. Jadi, hari-hari ke depan kita harus jaga kesehatan, banyak ibadah puasa saja.

Meskipun, betapa bahagianya istri ketika mengetahui kalau dengan diangkatnya suami sebagai karyawan akan merubah nasib ke depan, namun kebahagian itu terbalas dengan kegetiran.

Diapun bersikap realistis sembari mengahabiskan rasa sabar dan tabah, yang selama ini aku tuntut. Beberapa bulan lalu, aku terpaksa menjual handphone istri, hanya untuk menutup kebutuhan primer, yang sampai saat ini belum juga tergantikan…

Duh, Kekasih, aku yakin ini bukan karma dari apa yang pernah aku lakukan. Tapi kondisi ini, karena memang dikondisikan seperti ini, entah oleh siapa. Tapi aku masih punya Engkau, semoga Engkau tak membalikan cinta dan muka-Nya, untukku…

Kategori:ngecuprus Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: