Beranda > ngecuprus > Praktek Ponari, Anak Ajaib Dari Jombang Ditutup

Praktek Ponari, Anak Ajaib Dari Jombang Ditutup

image01Ponari (9), warga Dusun Kedungari Desa Balongsari Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur tiba-tiba menjadi pembicaraan warga Jombang. Bocah SD ini dipercaya memiliki kemampuan supranatural yang bisa menyembuhkan orang sakit.

Ponari mendadak dicari banyak orang karena dia memiliki sebuah batu berukuran sebesar telur ayam berwarna kuning, yang dianggap memiliki khasiat yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Menurut warga sekitar, kisah kesaktian Ponari berawal sekira dua bulan lalu setelah Ponari tersambar petir saat hujan deras mengguyur desanya. Saat itu, Ponari mendapati sebuah batu yang menempel di kepalanya. Atas saran kakeknya, batu tersebut pun dibuang. Konon batu tersebut sudah tiga kali dibuang, namun selalu kembali “ke tangan” Ponari.

Praktik pengobatan Ponari, bocah sakti Jombang yang menyedot puluhan ribu orang untuk datang berobat setiap hari itu membuat polisi dan aparat desa kewalahan. Praktik pengobatan itu pun akhirnya ditutup secara permanen.

Keputusan itu diambil setelah Ponari beserta orangtua, guru, dan aparat Desa Balongsari mengadakan rapat dengan Kapolres Jombang AKBP M Khosim dan Bupati Jombang Suyanto, di Pendopo Kecamatan Megaluh pada Selasa (10/2/2009).

  1. 9 Februari 2009 pukul 14:11

    ya diambil lagi. ya balik lagi.
    yg buang kakek ya cucu mungut lagi. hehehe

  2. RCO
    9 Februari 2009 pukul 17:30

    Denger-denger penghasilannya tidak kurang dari 60 juta per hari.
    Wuih…. batu ajaib batu rejeki, batu kesembuhan.

  3. Yep
    10 Februari 2009 pukul 02:13

    Menurut saya penghasilannya lebih ajaib Mas….:)

  4. kaisarphone
    10 Februari 2009 pukul 04:27

    Betul !,penghasilannya lebih ajaib dan sangat jelas bukan hasil dari korupsi. para koruptor dan tukang fatwa haram sebaiknya dikasih minum air celupan batu ajaib itu !! . Siapa tahu bisa waras dari hobinya yang meresahkan banyak orang itu, HHehh !! VIVA PONARI !!

  5. 10 Februari 2009 pukul 16:52

    mo tau foto ponari ternyata masih senang di gendong sang ayah : http://wartanusa.blogspot.com/2009/02/foto-dukun-cilik-ponari-dari-jombang.html

  6. &!
    10 Februari 2009 pukul 18:03

    Yaaaaaaaaa pokok harus tetep inget tuhan

  7. - oleh - oleh - oleh
    10 Februari 2009 pukul 18:04

    maksudnya ga sampai lupa tuhan

  8. - oleh - oleh - oleh - oleh - oleh - oleh - oleh - oleh - oleh - oleh - oleh
    10 Februari 2009 pukul 18:08

    klo batunya dibuang = kembali

    gimana klo di titipin ke pesawat luar ankasa truz ngorbit

  9. keyzha
    11 Februari 2009 pukul 01:08

    ada batu yang sama g ya di jual bebas…..kan lumayan buat koruptor biar g dpt uang sembarangan.ato g buat income negara…..untuk rakyat.ha9…haiah….ada2 aja dech….Oh my god!!!tetep…
    inilah hidup…..ada aja hal yang kadang menguras otak untuk memahaminya…..tapi yasutralah……mungkin seninya indonesia ya termasuk yang kaya gini….

  10. Humor lucu
    11 Februari 2009 pukul 02:41

    sudah bukti manjurnya g ya?

  11. iwan
    11 Februari 2009 pukul 03:27

    terbukti dah banyak yang meninggal… klo kepastian sembuh belum ada… cuma kebetulan aja kali bagi yang sembuh….

  12. 12 Februari 2009 pukul 00:32

    ingin coba lagi?
    tapi sebaiknya jangan coba deh! karena batu itu dibuang dimukanya koruptor pasti kembalinya di mejanya Pak Hakim. Hiiiiii

  13. 12 Februari 2009 pukul 03:22

    tanda zaman telah mengalami kritis daria berbagi aspek, khususnya krisis iman, yang menjadikan orang tidak rasioanal lagi. mengaharapkan yang serba instan, dan harapan yang muluk-muluk. ingatlah ajaran agamamu masing-masing.

  14. budi
    12 Februari 2009 pukul 11:48

    setuju saudara pasum. Itu tanda-tandanya manusia telah diperdaya syetan. membuat lupa akan Sang Maha, karena mereka lebih memilih memohon kepada anak kecil. Jelas-jelas perbuatan syirik yang sangat dikutuk oleh Alloh.

  15. brojo
    13 Februari 2009 pukul 01:48

    jangan berpandangan sempit, kita tahu salah satu ayat alqur’an ” kun fayakun ” maka apa yg dikehendaki Alloh maka terjadilah, dan itu adalah salah satu isyarat akan kebesaran Alloh dengan perantaraan ponari untuk menyambuhkan orang-2 miskin yg sakit dan tdk punya akses pengobatan ke RS, dg begitu membludaknya orang yg mencari kesembuhan ke ponari, itu adalah indikasi gagalnya pemerintah mengentaskan kemiskinan.

  16. 13 Februari 2009 pukul 07:30

    Sebenarnya hal seperti itu bisa saja terjadi. Allah Maha Mampu, apalagi hanya untuk menyembuhkan yang sakit, menghidupkan yang mati saja sangat mungkin bagi Allah.
    Hanya saja, yang perlu dipahamkan kepada masyarakat (terutama yang mencari kesembuhan dengan berbagai cara), bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah. Jangan sampai berkeyakinan atau terbersit dalam hati bahwa kesembuhan yang diperoleh adalah dari kekuatan batu atau dari kehebatan sang juru sembuh (baik itu dokter, mantri atau tukang obat).
    Jadi kita dan semua manusia harus memahami ini (tawakal yang wajib hanyalah kepada Allah bukan kepada selainnya, barangsiapa yang tawakal kepada selain Allah, maka dia telah menyekutukan Allah. Berat resikonya).

    Salam hangat,
    abaharsa🙂

  17. 13 Februari 2009 pukul 07:36

    Gampang saja memilah:
    Kalau dia berkeyakinan bahwa batu itu yang menyembuhkan, maka ini kesyirikan.
    Dan apabila dia berkeyakinan bahwa Allah-lah yang menyembuhkan, dan batu itu hanyalah sebagai perantara saja, maka inilah yang benar.

    Kita lihat banyak pengobatan, hanya sikap dan keyakinan dalam hatilah yang menentukan posisi seseorang disini, apakah dia benar ataukah salah menyikapi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: