Beranda > ngecuprus > Heboh Valentine Days

Heboh Valentine Days

Valentine day! Apa ini merupakan hari yang spesial for you? Atau ada sebagian yang menganggap hari yang tidak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Simak reportase Tim Kreatif seputar pandangan teman-teman kita dari SMU 4 BHE Yogyakarta, STM PIRI tentang “Valentine Day” dan simak pula solusinya dari sisi Islam.

PENDAPAT YANG KONTRA

Ika Putri Dian Asriyanti (SMU 4 Bhe)
(K): ”Menurut kamu Valentine day itu apa sih?”
(I): ”Ya, kalau aku sih nggak tahu arti sebenarnya.Tapi denger-denger itu artinya hari kasih sayang.”
(K): ”Apakah kamu suka merayakannya?”
(I): ”Ya dulu suka. Tapi setelah itu enggak lagi, soalnya itukan kebudayaan orang Nasrani. Setahuku hari itu adalah perayaan meninggalnya Jhon Valentino atau siapa itu….aku lupa!
(K): ”Berkaitan dengan Valentin, dikalangan remaja pasti ada perayaan. Menurut kamu gimana?”
(I): ”Engh…kalau cuma sama teman-teman ya nggak pa-pa sih. Aku sendiri kalau ada coklat gratis mau kok. (he..he..he)”.
(K): ”Apa saran kamu buat teman-teman yang suka merayakan Valentin?”
( I ): ”Jangan suka meniru kebudayaan orang Barat, itu nggak baik!”

Nanang Iman S (STM PIRI Yogyakarta)
(K): ”Menurutmu Valentine itu apa?”
(N): ”Itukan kebiasaan orang barat dan orang yang punya duit…! Biasanya mereka saling kencan di suatu tempat lalu ngapain gitu, em..mungkin mengungkapkan isi hati mereka…”
(K): ”Jadi kamu pernah merayakan dong, kamu kan cowok!?”
(N): ”Aduh… sorry deh jangan nyangkutin soal cowok-cewek, jujur aja gue pernah ngerayain ama temen, tapi sekarang nggak lagi selain dilarang dalam agama, gue juga sadar kalau berbagi dengan teman tuh nggak harus di hari Valentin, kapan aja bisa”
(K): ”Kamu suka ngikutin trend yang sekarang ini nggak, kaya tindikan telinga gitu?”
(N): ”Enggak! Tindikan itu kan dianggap sebagai tanda aja, kalau di sebelah kanan itu homosex laki-laki/suami. Nah sebaliknya kalau kiri itu homosex perempuan alias lesbi!”
(K): ”Apa saran kamu buat teman-teman?”
(N): ”Berbagi dengan teman itu bisa kapan saja dan dimana saja”.

Andayani Wahyu Astuti (SMU 4 Bhe)
(K): ”Apa yang kamu ketahui tentang Valentin?”
(Y): ”Aku ‘nggak tahu secara pasti, cuma biasanya dalam valentin cowok suka ngasih bunga terus si cewek ngasih coklat”.
(K): ”Apa kamu setuju dengan perayaan valentin?”
(Y): ”Nggak ah… itu kan dilarang dalam Islam”
(K): ”Kalau kamu dikasih sesuatu di hari valentin?”
(Y): ”Ya tergantung.ada maksud tersembunyi dibalik itu nggak? Kalau dari teman cewek sih nggak enak kalo nolak.”
(K): ”Apa pesan dan saran kamu buat teman-teman?”
(Y): ”Jangan suka yang aneh-anehlah dan jangan suka meniru!”

PENDAPAT YANG PRO

Deni Kurniawan (SMU 4 Yogyakarta)
(K): ”Menurutmu valentin itu apa sih?”
(D): ”Valentin adalah lambang kasih sayang,dimana pada tanggal 14 Februari mereka saling mencurahkan isi hati mereka pada pasangan masing-masing.”
(K): ”Apa kamu suka merayakannya?”
(D): ”Ya jelas dong, nggak gaul namanya kalau nggak ngerayain. Kita bisa makan-makan bareng teman, bisa ngasih perhatian lebih pada pacar kita.
(K): ”Apa saran dan pesan kamu buat teman-teman?”
(D): ”Hidup dibikin enak aja lagi, dan buatlah hidup lebih hidup dengan “Love”.

Rusli Efendi (SMU 4 Jogjakarta)
(K): ”Apa yang kamu ketahui tentang valentin
(R): ”Oh itu kan kebiasaan orang Jahiliyah ama Nasrani
(K): ”Bagaimana dengan perayaan valentinan
(R): ”Ah, itu terserah masing-masing orang. Tapi kalau aku ‘gak usah deh.
(K): ”Apa saran kamu buat teman-teman yang merayakan valentin?”
(R): ”Kita tuh harus punya pendirian, jangan suka ikut-ikutan. Nabi kan pernah bersabda “Lakum Diinukum Waliyadiin” Udah itu aja.”

Fenomena Valentine Day
Remaja masih saja dibuat heboh dengan “Ceremony Valentine Day” gemana tidak, kamu-kamu kayaknya wajib pada hari itu untuk memberikan perhatiannya yang lebih terhadap orang-oarng yang kamu kasihi. Entah pada adikmu, kakakmu, antar temen. Terlebih lagi bagi kamu yang merasa punya gandengan atawa tongkrongan. Pasti persiapannya matang sekali, mau dikasih apa ya si tambatan hatiku, coklat atau permen foxs si gemerlap itu. Belum lagi persiapan yang lain, mulai dari minyak wangi, balon, kostum, model rambut.

Kemeriahan perayaan valentine day sebenarnya tidak hanya dirayakan oleh remaja yang ada di Indonesia, tapi ini sudah menjadi hajatan intenasional dan ini menjadi fakta dari tahun ke tahun. Jadi seolah-olah telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Tidak hanya itu hotel, café, pub, media cetak dan elektronikpun heboh juga ikut berpartisipasi menyemarakan hal itu dengan menyuguhkan acara-acara seputar indahnya valentine-an. Yang inti pesannya adalah berupa provokasi “Jika anda tidak ikut ambil bagian dalam karnaval konsumerisme dan life style ini maka anda akan ketinggalan sejarah.” Maka semua orang jadi resah untuk tidak merayakannya. Yang the have resah dalam menentukan pesta dan hiburan yang akan dinikmati sementara bagi kalanhgan the poor resah dan tersiksa akibat tak bisa merasakan hal yang sama sebagaimana gurunya (baca:TV) mengajarinya.

Valentine-an globalisasi gaya hidup
Apabila kita cermati, perayaan valentie-an pada faktanya terkait dengan life-style atau gaya hidup dan hura-hura. Karena yang namanya manusia tidak ingin hidupnya monoton begitu saja, tapi ingin hidupnya indah berwarna-warni. So untuk itu maka orang yang hidupnya no Filter maka akan mencontoh gaya hidup barat yang sangat hedonis (hidup berdasar pilihan kesenangan saja) plus permisif (semua serba boleh). Gaya hidup ini adalah gaya hidup yang free atau bebas nilai. Dan parahnya gaya hidup ini telah merambah diseluruh lapisan kehidupan masyarakat. Mulai dari desa, daerah pinggiran apalagi kota, terutama melanda para remaja ABG, karena remaja seusia itu diidentikan dengan “masa pencarian identitas” plus masih labil emosionalnya, sehingga ingin selalu meniru sesuatu yang baru. Sebagaimana ikut perayaan valentine-an atau sesuatu yang baru lainnya yang tidak jelas asal-usulnya. Mereka hanya berprinsip “just having fun, fun and fun. Sehingga dengan meniru gaya hidup hedonis kata mereka tidak lagi menjadi remaja kuno, kuper atau no gaul, tetapi berubah menjadi remaja yang fresh, cool and funky yang selalu mengikuti trend yang up to date no late of date.

Sikap Remaja Muslim Terhadap Valentine Day
Bagi seorang muslim, segala perbuatannya telah mempunyai hukum dan wajib baginya untuk mengetahui hukum suatu perbuatan sebelum perbuatan tersebut dilakukan. Sebagaimana kaidah syara :”Al aslu fil af’al attaqoyyidu bil hukmi syar’I.” Bahwa asal {pokok/dasar}perbuatan adalah terikat dengan hukum syara atau aturan islam. So, dalam Islam sempurna sekali aturannya, mulai yang paling kecil (do’a masuk-keluar WC,do’a makan) sampai aturan yang makro{tentang ekonomi Islam, sistem sosial Islam, pemerintahan Islam}, termasuk juga dengan “Valentine-an” ini kamu harus tahu hukumnya, sebelum kamu semua ikut-ikutan merayakannya.

Dengan melihat, memahami asal-usul dan fakta yang ada pelaksanaan Valentine day sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan pola hidup (life style) seorang muslim. Tradisi tanpa dasar ini lahir dan berkembang dari segolongan manusia yang hidup dengan pola yang sangat jauh berbeda dengan pola hidup seorang muslim, yang selalu hidup berdasarkan syariat Islam yang agung.

Jika kita pahami lebih mendalam, akan kita dapati aturan yang tegas terhadap masalah ini di dalam firman Allah SWT, antara lain:

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggung jawaban. (QS Al Isra: 36)

”…Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu (keterangan-keterangan), sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk orang yang dholim. QS Al Baqarah:145)

Dan juga sabda Rosul Saw yang memperingatkan dengan tegas agar kita jangan sampai mengikuti pola hidup kaum atau bangsa lain.

“Janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nasrani”….. (HR Tirmidzi)

“Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan umatku (umat islam). (HR Tirmidzi dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya)

Dan juga kita simak penyataan Ibnu Khaldun seorang ahli sosiologi yang terkenal mengatakan: “yang kalah cenderung mengekor yang menang, dari sisi pakaian, kendaraan, senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, bidang seni,seperti seni lukis, seni pahat (patung berhala) baik di dinding, pabrik, atau di rumah-rumah.

Kesimpulan
Pesan buat remaja muslim, seharusnya ndak usahlah latah ikut-ikutan merayakan Valentine-an. Karena hal itu, tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan Islam bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Sehingga seorang remaja muslim tidak boleh mengambilnya atau berpartisipasi di dalamnya.

  • Dan fahami juga aktifitas tersebut hanyalah “WASTING TIME” alias perbuatan yang sia-sia. Karena tidak punya tujuan yang jelas.
  • Fahami juga bahwa Valentine-an adalah bagian dari globalisasi budaya barat yang sengaja disusupkan ke tengah-tengah kaum muslimin. Mengerikan ya….
  • Makanya ayo bangun remaja muslim, tempa diri selalu dengan tsaqofah Islam dan jangan lupa untuk selalu mendakwahkannya.
  • Pesan terakhir terus tebarkan kasih sayangmu dijalan Islam bukan dijalan yang dilaknat Islam. copaste dari mayoga
  1. 15 Februari 2009 pukul 00:22

    Setuju gan, tulisan yg bagus nih. masalahnya, remaja dah terninabobokan dg budaya spt ini. temenku, seorang yg berkerudung, dg santainya menganggap hal ini biasa aja. btw MUI dah pernah ngeluarin fatwa haram blom yach???

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: