Beranda > ngecuprus > Jejak Sengsara Membawa Nikmat

Jejak Sengsara Membawa Nikmat

Subjek di atas membawa alam pikiran kita kepada legenda perjuangan Syamsul Bahri merebut kekasih hatinya, Siti Nurbaya dari pelukan Datuk Maringgih. Tapi di sini aku gak mau ngomongin sang Datuk dan si Syamsul Bahri, biarkan legenda masyarakat Padang itu abadi adanya.

Memasuki bulan Februari ini, jujur aku disergap rasa frustasi. Selain karena banyak kawan-kawan seperjuangan yang resign dari tempat kami bekerja, kondisi ekonomi keluarga lagi dalam kondisi carut-marut. Dengan penghasilan tidak lebih dari Rp1,5 juta aku harus mencukupi semua kebutuhan keluarga, belum lagi kebutuhan si kecil yang usianya baru 10 bulan.

Bisikan untuk “melacurkan idealisme” dengan “menodong” nara sumber terdengar keras, dan kencang sekali di telinga, maklum saja profesi wartawan berpotensi untuk itu dalam keadaan darurat. Tapi setiap kali bisikan itu datang, setiap itu pula aku mengacuhkan.

Tidak hanya karena mustahil aku bisa dan dapat (karena naskah yang aku tulis cenderung membuka tabir kemunafikan), juga aku masih berusaha untuk katakan tidak dan tidak untuk itu. Alhasil, satu-satunya jalan, aku minta izin dengan istri yang sudah terlanjur sabar dengan keadaanku, untuk menjual gelang mas kawin waktu nikah dulu.

Pada awalnya istri sempat menolak dan protes, karena “harta” itu adalah harta yang sangat sacral, dan wujud cinta yang diberikan pada moment sacral dan bersejarah dengan disaksikan dua keluarga, penghulu dan keluarga besar, kalaupun suatu saat bisa terbeli lagi, tidak akan bisa menggantikan nilai kesakralan gelang itu.

Aku cuma bisa mengutuk diri mendengar jawaban istri, suami yang mana pula yang rela dan tega untuk menjual mas kawin itu. Tapi, ini solusi satu-satunya untuk mempertahankan biduk keluarga dari bencana kelaparan. Dengan berusaha memberi pemahaman sedetail-detailnya, akhirnya istri menerima juga, meski amat sangat berat.

Mas kawin sudah pindah tangan, aku serasa ditelanjangi oleh nasib di depan perempuan yang telah memberiku gadis kecil yang lucu dan cerdas, bahkan serasa tak bernilai di depan mertua dan orang tua. Sakit memang, tapi masih ada secuil kebanggan untuk menghadapi “protes” mereka, bahwa menjual barang yang kita punya jauh lebih mulia dari pada korupsi…

Jatuh bangun, barangkali inilah episode baru menapaki biduk rumah tangga. Ada kalanya di atas, kerap pula berada di posisi paling bawah. Semua itu bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja. Yang memebedakannya hanyalah, kekuatan bathin dalam menghadapi itu semua. Dengan berlimpah ruah kekayaan, tidak memberi jaminan kebahagiaan hidup, dan minim harta belum tentu hidup tak bahagia…

Kekuatan bathin untuk tidak menceburkan diri kepada lumpur, bisa saja lahir dari kuatnya benteng pertahanan ketabahan istri. Semakin dia mengerti kondisi sesungguhnya, semakin kuat pula benteng pertahanan kita. Demikian hal sebaliknya…

Puasa setengah hari dan hilangnya harta terbesar kami, tidak meruntuhkan sendi-sendi cinta kita. Sebaliknya, dia semakin menggodaku untuk selalu dan tetap dicinta. Sesekali hatinya bicara, “aku mencintaimu dengan nasib sial yang kamu miliki…”

Duh, mata berlinang, hati bergetar. Bunda, biarkan ayah bebas mencintaimu, dengan segala cara dan daya. Love U bunda, saat ini dan seterusnya, SUNGGUH!!!

Kategori:ngecuprus
  1. seniatussaadah
    2 Maret 2009 pukul 14:23

    Subhanallah…Sumpah ya!!
    Seni ga tau harus komentar apa kang. Seni kagum sama akang, terlebih istri akang.
    Ternyata susah ya membangun sebuah keluarga, tidak hanya butuh cinta, tapi cintalah yang membuat semuanya lebih kuat.
    Semoga seni bisa belajar dari kalian.
    Salam deh buat istri kang annas. Love her deh…

  2. anndy senna
    5 Maret 2009 pukul 08:09

    Kang, salam kenal, saya senna di Jakarta, saya suka tulisan2 anda, dan buat yg satu ini saya cuma bisa bilang ‘Salut dan hebat’. Saya jg pernah jd wartawan foto di media kecil di Jakarta, godaan-godaan untuk menerima ‘angpau’ dari berbagai pihak kerap datang. Tp sekarang saya putuskan untuk brhenti menekuni jadi wartawan, sekarang saya membuat usaha kecil2an. (eh.. Jdi curhat. Maap) thanks. Tetaplah bangga dgn apa yg kita punya. Syukuri yg ada.. Salam buat ‘teteh’ (istri)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: