Beranda > berita > RUU Perfilman Bunuh Kreativitas

RUU Perfilman Bunuh Kreativitas

Para insan film sedih dengan proses pembuatan Undang-Undang Perfilman yang sedang digodok oleh DPR. Mereka menilai banyak sekali pasal ancamannya dan dinilai membunuh kreativitas.

“Saya tegaskan, dari dulu teman-teman film di sini pada dasarnya bukan menolak. Kita ingin penundaan dan pasal-pasal di dalamnya ada mengandung banyak ancaman,” papar seniman film senior Slamet Rahardjo saat ditemui di Gedung Nusantara 2, DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (8/9/2009).

Pasal ancaman yang dimaksud Slamet Rahardjo adalah pasal 6 RUU Perfilman. Di dalam RUU itu tersebut tidak boleh ada rokok, narkoba, dan mengandung SARA.

“Di dalam film itu ada unsur itunya untuk menggambarkan, bukan untuk mengajarkan. Masyarakat Indonesia sudah cerdas,” ungkap kakak kandung Eross Djarot ini

Rancangan Undang-Undang Perfilman membunuh kreativitas sineas Indonesia dalam berkarya. Sineas muda Riri Riza mengatakan ada substansi pasal yang melarang film Indonesia.

“Pasal 6 isinya soal narkoba dan sara. Sebenarnya bukan kita mau ajarkan pada masyarakat, ┬átetapi itu film sebagai gambaran di masyarakat. Jadi larangan tersebut sangat membunuh kreativitas,” papar sutradara Petualangan Sherina ini kepada wartawan di Gedung Nusantara II, DPR, Jakarta, Selasa (8/9/2009).

Pembunuhan kreativitas inilah yang membawa 20 sineas Masyarakat Film Indonesia sengaja mengenakan baju serba hitam dan mengirim bunga duka cita.

“Pada dasarnya, kita keberatan terhadap pengesahan RUU ini. Menurut kami ini akan menimbulkan masalah,” kata Riri.

Dia mengakui aksi 20 orang sineas ini adalah spontan dan sebagai tanda penolakan. Di antaranya adalah Dedi Mizwar, Nia Dinata, Rima Melati, Slamet Rahardjo, dan lainnya.

“Saya tekankan kalau film itu enggak akan pernah mati. Saat ini saja, film Indonesia sudah cukup maju,” tegas Riri. (nov)

Kategori:berita Tag:,
  1. 9 September 2009 pukul 02:35

    hmmm sy suka posting ini­čÖé,
    kenalan dulu ya… u
    Agus Suhanto

  2. ahnku
    9 September 2009 pukul 15:15

    haha… perasaan semua RUU kuta kontrofersial dah.. karena banyak yang menguntungkan sepihak… ckkckc

  3. 11 September 2009 pukul 11:45

    segala sesuatu keputusan terkadang memang menimbulkan pro kontra. namun sudah selayaknya apabila pihak-pihak yang besinggungan, membicarakanya dengan arif, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. termasuk dalam pengesahan RUU perfilman ini.
    akan sangat tidak etis apabila para sineas yang bersinggungan langsung dengan dunia film justru diabaikan. kita semua tahu bahwa bangkitnya perfilman Indonesia saat ini adalah hasil kerja keras mereka secara nyata.
    film bisa disebut sebagai salah satu produk budaya, sangat bijak apabila memandangnya dari sudut kualitas bukan kuantitas semata.
    Mengembalikan Jati Diri Bangsa

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: